Ujian Terberat Pejuang LDR: Menjaga Cinta dengan Kesepakatan Saling Menunggu

Sprinkleofginger.com.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Sprinkleofginger.com yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Dosni Arihta – Denpasar

Berpisah untuk akhirnya Kembali

Juli 2007.

Bertemu dengan dia untuk pertama kalinya di stasiun Tawang, Semarang. Waktu itu dia datang dari Jakarta, naik kereta api ke Semarang untuk berkuliah. Aku ikut menjemputnya karena diajak teman. Dia, adalah teman dari temanku. Kami berkenalan, akrab, bersahabat, lalu akhirnya menjadi begitu dekat.

Juli 2010.

Berpisah kembali di stasiun Tawang. Berjauhan jarak dengan dia bukan karena keinginan hati, namun karena ingin menggapai mimpi. Dia, kekasih yang lebih dahulu lulus dan ingin bekerja di Jakarta, dan aku yang masih berjuang dengan skripsi saat itu di Semarang.

Juli 2011

Jarak yang membentang semakin jauh. Aku yang sudah lulus dan rindu kembali ke kampung halaman di Bali. Dia datang mengunjungi dari Jakarta ke Semarang untuk mengantarku pulang. Kami berpisah sambil berjanji untuk bertemu kembali suatu saat nanti.

Juli 2011- hingga 2015

Perjalanan panjang selama lima tahun berjauhan jarak. Rasa rindu seperti sebuah kisah jemu antara dia dan aku. Sebuah tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik menjadi satu-satunya tumpuan harapan agar kami berdua dapat tetap menjaga hati dan hubungan. Hubungan jarak jauh sungguh ujian terberat bagiku. Saat aku ada di tempat baru, bekerja dan bertemu dengan orang-orang baru, dan dia tidak ada di situ. Hubungan jarak jauh menjadi cobaan yang terus menerus membuatku ragu. Tuntutan ego agar dapat bersama, namun realitanya tidaklah sama.

Berkali-kali menangis karena rindu tak tertahankan. Berkali-kali berselisih paham karena komunikasi tak selalu lancar. Berkali-kali berencana untuk bertemu namun seringkali gagal. Dia bercerita tentang teman-temannya yang tidak kukenal. Dan ceritaku tentang pekerjaan yang mungkin juga tidak dia pahami. Berkali-kali aku ingin menyerah, karena dia tak kunjung memberikan kepastian. “Tunggulah, aku akan datang ketika keadaanku sudah lebih baik,” katanya. Kata orang, sebuah tindakan cinta yang terbesar adalah ketika menunggu. Sebuah tindakan aktif untuk terus memelihara rasa cinta namun kita diminta untuk diam dan tidak melalukan apa-apa. Apakah sesuatu akan terjadi jika kita terus menanti? Pikiran itu terus berkecamuk dalam benakku.

Kami pernah bertemu beberapa kali selama berjauhan jarak tersebut. Pada tahun 2013 di Bandung selama beberapa hari. Di sana kami berdebat hebat. Aku yang menuntut kepastian, dan dia yang menuntut kesabaran. Setelah berbicara banyak hal, akhirnya kami bersepakat.

Tinggalkan Balasan